3 Tanda HR Menggunakan 'Informasi Asimetris' Untuk Menjebak Kamu
Lagi ramai soal kekerasan sistemik di institusi pendidikan tertutup, yang dianggap 'dibesar-besarkan'. Sebagai mantan insider HR, ini menggelikan. Kebusukan sistemik di tempat tertutup itu bukan 'isu', itu adalah 'desain'.
Di korporasi, kami tidak menyebutnya 'menjaga nama baik almamater', kami menyebutnya 'melindungi brand perusahaan'. Logikanya sama: ini adalah masalah ekonomi. Dua konsep kunci: 'Informasi Asimetris' dan 'Moral Hazard'. Ini adalah 3 cara HR menggunakan ini untuk menjebak kalian:
1. Informasi Manajer Toksik Adalah 'Rahasia Dapur'
Kalian tanya saat wawancara, "Kenapa turnover di tim ini tinggi?" HR akan menjawab, "Oh, perannya sangat 'challenging' dan 'fast-paced'." Ini adalah penipuan. 'Informasi Asimetris'-nya adalah: HR tahu manajer di tim itu adalah predator, tapi mereka sengaja menahan informasi vital itu. Kalian masuk ke pasar yang gagal.
KONTEN VERSI TANPA FILTER
Suka dengan artikel ini? Di channel Telegram kami, pembahasannya lebih liar. Dapatkan curhatan produk, tips-tips getir, dan renungan harian yang tidak akan kamu temukan di tempat lain.
Gabung Gratis di Channel SEP!K2. Pelaku Dianggap 'Aset Terlalu Berharga' (Moral Hazard)
Seorang 'rainmaker' (top sales) membawa 40% revenue, tapi dia juga predator. HR tahu. Tapi secara ekonomi, 'biaya' memecat dia jauh lebih besar daripada 'biaya' membungkam satu-dua korban. Karena dia kebal hukum, dia mengalami 'Moral Hazard'. Dia diasuransikan oleh sistem atas semua kebusukannya. Dia tidak punya insentif untuk berhenti.
3. 'Investigasi Internal' Adalah Manajemen Informasi
Saat kasus meledak, fungsi HR bukan mencari keadilan. Fungsi HR adalah mengontrol informasi agar 'informasi asimetris' tidak bocor ke publik (media). Investigasi internal adalah kalkulasi 'cost-benefit'. Korban 'diselesaikan' (dibungkam pakai NDA dan pesangon). Pelaku 'diamankan' (dipindah ke cabang lain). Ini bukan kegagalan sistem. Ini adalah sistem yang bekerja sesuai desainnya: melindungi modal, bukan manusia.